Oleh : Abu Yahya As Sajiiy - Qismus Sayr'i Laziz Muwahidin
Syaikh Duktur Abdul Azizi bin Muhammad alu Abdul Latif hafizuhullah dalam kitab
beliau, "Al-Ubudiyyah" bertutur :
"Syahwat hubbur Riyasah --ketenaran dan
keterkenalan-- adalah salah satu syahwat yang banyak mejangkiti manusia."
Dalam hadits Kaab bin Malik radiyallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam
bersabda :
"Tidaklah dua serigala yang lapar yang ditemukan dengan kawanan domba
lebih berbahaya daripada seseorang yang tamak kepada harta dan kepada
kemasyhuran (popularitas)." (Dikeluarkan oleh At-Tirmidziy, dikatakan hadits ini
Hasan shahih).
Al-Hafidz Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy rahimahullah dalam mensyarah hadits ini
berkata :
"Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kerakusan
seseorang terhadap harta dan kemasyhuran lebih merusak terhadap diennya, tidak
lebih ringan dari bahaya dua serigala yang lapar terhadap kawanan domba, bisa jadi
sama bahayanya atau bisa jadi lebih berbahaya.
Hal itu mengisyaratkan tidak selamatnya dien seorang muslim yang disertai
kerakusannya terhadap harta dan kemasyhuran, kecuali sedikit. Sebagaimana tidak selamatnya kawanan domba dari bahaya serigala lapar sebagimana dalam hadits itu, kecuali sedikit. Ini adalah permisalan yang besar yang mengandung tujuan tahdzir --peringatan keras-- terhadap kerakusan seseorang terhadap harta dan
kemasyhuran dunia". Selesai.
Masih tuturan beliau : "Adapun kerakusan terhadap kemasyhuran, maka ia lebih
membinasahkan pelakunya daripada kerakusan terhadap harta benda ; karena
sesunguhnya pemburu kemasyhuran dunia dan kedudukan di dalamnya, dan ketenaran di hadapan manusia dan kesombongan di muka bumi lebih bahaya atas seorang hamba dari pemburu harta benda, dan bahaya harta benda lebih besar lagi
dari zuhud darinya ; karena harta benda bisa dicurahkan untuk memburu
kemasyhuran dan ketenaran." (Syarah Hadits, hal. 13 dan 7).
Kemudian Beliau rahimahullah membagi kerakusan terhadap kemasyhuran dengan
mengatakan :
"Kerakusan terhadap kemasyhuran atau popularitas ada dua jenis :
Pertama : memburu kemasyhuran dengan kepemimpinan, kekuasaan dan harta, hal
ini perkara yang sangat berbahaya dan ia kerap menjadi penghalang kebaikan di
akherat, kemuliaannya, karomahnya dan izzahnya."
Allah subhanah berfirman :
"Negeri akherat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan membuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." (Qs. Al-Qashash 83).
Dan orang yang rakus terhadap ketenaran dan kemasyhuran dunia dengan memburu
kepemimpinan, bila mendapatkan niscaya akan diserahkan kepada dirinya sendiri".
Kedua, memburu kemasyhuran dan ketinggian di hadapan manusia dengan
perkara-perkara dieniyyah --keagamaan--, seperti ; kehebatan ilmu, kehebatan amal, dan kehebatan kezuhudan. Perkara ini lebih keji lagi jahat dari jenis yang pertama, dan keadaannya lebih buruk, dan kerusakannya dahsyat dan sangat berbahaya ; Padahal kehebatan ilmu, amal dan kezuhudan hanya diburu dengannya apa yang ada disisi Allah dari derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal, kedekatan kepada Allah dan ketinggian di hadapan-Nya, ... " (Syarah Hadits, hal. 13, 15, 16, dan 20 dengan peringkasan).
Wallahu 'alam bishowwab.
Akhiru da'wana anilhamdulilahi rabbil alamin.
------------------------------------------------------------------
Maroji : Kitab Jami'ul Ulum wal Hikam, Imam Ibnu Rajab Al Hanbaly rahimahullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar