Kamis, 26 Oktober 2017

SEPULUH PERKARA DALAM AQIDAH YANG TIDAK BOLEH TIDAK DIKETAHUI OLEH SEORANG MUSLIM DAN WAJIB DIPELAJARI

بسم الله الر حمن الر حيم

#Kajian_Tauhid
#kesepuluh_bersambung
#Kamis, 6 Safar 1439 H

10. Perkara kesepuluh: ma’na thoghut dan jenis-jenisnya yang paling utamaYang pertama kali diwajibkan oleh Allah kepada anak Adam adalah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah. Dalilnya firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ.

“Dan sungguh, Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” [Qs. an-Nahl: 36]

Bentuk kufur kepada thaghut adalah meyakini kebatilan beribadah kepada selain Allah, meninggalkannya, membencinya, serta mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka. Adapun bentuk iman kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya ilah yang disembah tanpa selain-Nya, memurnikan semua jenis ‘ibadah untuk Allah dan menafikannya dari semua sesembahan selain Allah, serta mencintai di jalan Allah dan membenci di jalan Allah.Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan hamba melampaui batas, berupa suatu yang disembah, yang diikuti,atau yang ditaati.

Contoh yang disembah adalah setan-setan jin yang menyuruh para penyihir manusia untuk menyembah mereka,lalu mereka pun menyembah para jin tersebut. Contoh yang ditaati adalah para presiden, para raja dan para pemimpin yang memerintahkan rakyat mereka untuk menyalahi syariat dan berhukum kepada undang-undang buatan manusia, serta memerangi penegakan hukum syariat dan orang yang menyeru kepada penerapannya, lalu rakyat mengikuti mereka. Adapun yang ditaati contohnya para ulama, para rahib, dan para syekh jahat yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, lalu mereka ditaati dalam hal itu.

Sementara muslim muwahhid mengingkari setiap yang disembah, diikuti dan ditaati selain Allah, berlepas diri dari mereka dan dari para pengikut mereka, serta memusuhi danmembenci mereka. Inilah millah Ibrahim ‘alayhis salam yang barangsiapa membencinya, maka dia telah membodohi dirinya sendiri. Dan ia adalah teladan baik yang Allah Ta’ala menganjurkan kita untuk mengikutinya dalam firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ، كَفَرْنَا بِكُمْ، وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِوَحْدَهُ.

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepasdiri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami kufur kepada kalian. Dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja.’” [Qs. al-Mumtahanah: 4]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar