بسم الله الر حمن الر حيم
#Kajian_Tauhid
#keenam_bersambung
#Ahad, 2 Safar 1439 H
Perkara keenam : Jenis-jenis Tauhid
[B]: Tauhid al-uluhiyyah, yaitu mentauhidkan Allah Ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti berdoa, bernadzar, menyembelih, berharap, takut, keinginan, cemas, bertaubat, memohon pertolongan, memohon perlindungan, mengagungkan, rukuk, berjihad, dsb. Ma’nanya adalah bahwa hamba menunaikan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah semata.
Jika dia melakukan itu, maka dia telah menjadi seorang muslim yang telah mewujudkan tauhid. Adapun jika hamba menunaikan ibadah seraya mendekatkan diri dengannya kepada selain Allah, atau mengarahkan sebagian darinya kepada Allah dan sebagian yang lain kepada selain Allah, maka dia belum mewujudkan tauhid dan jatuh ke dalam syirik. Wal ‘iyadzu billah.
Tauhid al-uluhiyyah yang juga dinamakan tauhid ibadah, adalah sebab para Rasul ‘alayhimus salam diutus. Karena, setiap Rasul memulai dakwahnya kepada kaumnya dengan perintah untuk mentauhidkan ibadah. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang Rassul (untuk menyerukan): Sembahlah Allah ...” [Qs. an-Nahl: 36]
Dan Nuh, Hud, Shalih, dan Syu’aib mengatakan perkataan yang sama,
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ.
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia.” [Qs. al-A’rof: 59, 65, 73, 85]
Di antara jenis-jenis tauhid, jenis inilah yang diperselisihan sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang antara para Rasul dan umat-umat mereka, serta menjadi sebab Rasulullah shallaAllahu ‘alayhi wa sallam memerangi orang-orang kafir Quraisy dan sebab Khulafa’ Rasyidun memerangiorang-orang murtad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar