Alhamdulillah pada kesempatan yang insyaallah berbarokah ini Laziz Muwahidin meyediakan khutbah Iedul Adha tulisan Ibnu Qudamah Al Arkhabiliy semoga tulisan ini menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah subhanahuwaa`ala
Nabi Ibrahim `alaihissalam pelajarn tauhid di hari Ied
(Oleh : Ibnu Qudamah Al Arkhabiliy)
الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِمُحَامِدِهِ الَّتِي هُوَ لَهَا أهْلٌ ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ جَلَّ وَعَلَا كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ المُتَوَالِيَةِ وآلَائِهِ المُتَتَالِيَةِ وَعَطَايَاهُ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى ، أَحْمَدُهُ جَلَّ وَعَلَا حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَاركَاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ جَلَّ وَعَلَا وَيَرْضَى ، أَحْمَدُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعْمَةِ الإِسْلَامِ وَعَلَى نِعْمَةِ الإِيْمَانِ وَعَلَى نِعْمَةِ القُرْآنِ وَعَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمَ بِهَا عَلَيْنَا فِي قَدِيْمٍ أَوْ حَدِيْثٍ أَوْ خَاصَةٍ أّوْ عَامَةٍ أَوْ سِرٍ أَوْ عَلَانِيَةٍ ، اَللّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلهَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقَيُّوْمُ السَمَوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ وَخَالِقُ الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَآمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد
ثم أما بعد
Sidang jama'ah shilat idhul adha yang di rahmati Allah subhanahuwata'ala
Di hari Ied yang insyaallah ber barokah ini telah terukir dalam sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh manusia ter khusus umat islam, yang pada kesempatan hari ini insyaallah khotib akan menyampaikan hari eidul adha yang ber bahagia ini terdapat pelajaran yang sangat berharga, dan semua itu di abadikan di dalam Al Qur'an yang Allah subhanahuwata'ala mengatakan bahwa Al Qur`an itu :
ذلك الكتاب لآ ريب فيه هدى للمتقين
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” ( Al Baqoroh: 2)
Allah subhanahuwata`ala memberitahuka kepada manusia bahwa tidak ada keraguan di dalam-nya (Al Qur`an). dan Al Qur'an akan selalu terjaga sampai hari kiamat. di dalmnya terdapat sebuah kisah yang tidak akan pernah di lupakan oleh manusia, sebuah kehidupan yang dilandasi akan keyainan sejati terhadap Robbul izzati, keyakinan yang begitu kuat dan tidak tergoyahkan oleh apapun, meski akal memandangnya adalah sesuatu yang gila, bodoh, keji, dan tidak bisa di cerna oleh hati maupun akal manusa.
kisah itu adalah dimana Nabi Ibrahim `allaihissalam menyembelih Nabi ismail `alaihissalam. dengan landasan hati yang teguhmsabar, dan keyakinan yang kuat terhadap kebenaran dari Robnya. bahwa apapun yang diperintahkan Robnya adalah sesuatu yang baik dan tidak ada suatu ke mudhorotan sedikitpun di dalamnya dan itu adaah murni Al haq, kebaikan, dan kemaslahatan bagi kehidupan. meskipun terkadang syari`at itu tidak tidak se laras dengan akal, hati dan naluri manusia. Allah subhanahuwata`ala berfirman :
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Firman Allah subhanahuwata`ala tersebut menjelaskan bahwa aka, hati, dan naluri manusia harus di selaraskan dengan syari`at dan bukan justru syari`at ini harus di diskusikan dan di cari cari dimana yang sesuai dengan peikiran kebanyakan manusia.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد
Jamaah sholat iedul adha yang drohmati allah subhanahuwataala
Kisah yang terukir dalam sejarah yang sangat berharga tersebut adaah kisah nabi Ibrahim `alaihissalam yang menyembelih putra kesayanganya sebagai bentuk cinta nya terhadap Allah subhanahuwata`ala. dengan mentaati apa yang Allah subhanahuwata`ala perintahkan tanpa menimbangnya dan meskipun itu bertentangan dengan akal, hati, dan naluri manusia.
Allah subhanahuwata`ala berfirman :
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Artinya, “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” (76) Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat (77) “Maka ketika Ibrahim melihat matahari terbit, dia berkata; inilah Rabku, ini lebih besar, namun tatkala ia (matahari) lenyap Ibrahim berkata, wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari kesyirikan kalian.” (QS Al-An’am : 76-78)
Nabi ibrahim `alaihissalam dalam pencarianya terhadap Allah subhanahuwataala. ia melihat segala sesuatu yang besar yang nampak dianggapnya sebagai Rob, dan yang sebelumnya Nabi Ibrahim `alaihissalam berfikir itu sebagai Rob, ternyata ia bisa lenyap dan menghilang dengan begitu keyakinanya pun menghilang. pada awalnya Nabi Ibrahim `alaihissalam berfikir bahwa sesuatu yang besar yang ada di depanya adalah Rob yang menguasai seluruh alam, akan tetapi Nabi Ibrahim `alaihissalam diberinya petunjuk oleh Allah subhanahuwata`ala dan menyadari akan Allah subhanahuwata`ala lah Robnya. setelah apa yang ia anggap sebaai Rob itu lenyap, dan pada akhirnya Nabi Ibrahim `alaihissalam menyatakan keberlepasan dirinya dari kaumnya yang musyrik, segala kesyirikan kaumnya dan apa apa yang mereka ibadahi selain Allah itu.
Bagaimana bisa matahari yang menerangi bumi ini tidak di sembah padahal tanpa matahari mungkin tidak ada kehidupan di bumi ini, bagaimana bisa bulan yang memberikan sinar nya di kegelapan malam tidak di sembah padahal ia adalah cahaya yang menerangi malam yang gelap gulita, dan bagaimana bisa semua itu tidak di sembah?. semua itu karena segala sesuatu yang nampak besar dan yang memberikan kehidupan di seluruh alam ini adalah ciptaan Allah subhanahuwataala dan atas kehendaknya. Robbil alamin penguasa seluruh alam, dan Allah lah yang menciptakan matahari, bulan, bumi tempat kita perpijak dan langit sebagai atap bagi kehidupan manusia di bumi ini.
Sudah sepantasnya Allah subhanahuwata`ala adalah satu satu nya yang manusia ibadahi dan tidak di seutukan dengan segaa sesuatu pun karna tidak akan pernah ada yang sebanding denganya. segala kebenaran adalah apa yang dibenarkan oleh Allah subhanahuwata`ala dan rosulnya shollallahu`alaihiwasallam, yang tertulis dalam kitab suci Al Quran dan segala kesalahan adalah yang disalahkan oleh Allah subhanahuwata`ala dan Rosulnya shollallahu`alaihiwasallam, yang tertulis dalam kitab suci Al Quran.
maka tidak sepantasnya manusia membuat tandngan tandingan ajaran selain apa yang di ajarkan syari`at islam, ideologi selain islam, dan seseatu yang mereka aggap benar selain dari ajaran islam. maka itu adalah murni kebatilan dan mutlak adalah sesuatu yang pasti salah. karna islam lah yang paling benar dan apa yang di ajarkannya adalah sesuatu yang mutlak akan kebenaranya meskipun hal itu bertentangan denga akal, hati, dan naluri manusia.
Allah subhanahuwata`ala berfirman :
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Artinya, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS Al-An’am : 79)
Keyakinan yang kuat itu ada pada diri Nabi Ibrahim `alaihissalam ketika Nabi Ibrahim `alaihissalam bertemu dengan Rob nya dan ia diberinya petunjuk.
Allah subhanahuwataala berfirman :
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)
“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)
Anak Nabi Ibrahim `alaihissalam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Nabi Ismail `alaihissalam karna Nabi Ishaq `alaihissalam lebih muda usianya dari Nabi Ismail `alaihissalam. ketika Nabi Ismail `alaihissalam sudah mencapai usia ghulam dan ia berada di usianya yang telah sya`ya yaitu usia dimana seorang anak telah mampu untuk bekerja. yaitu pada usia 7 tahun ke atas maka Nabi Ibrahim `alaihissalam menyampaikan apa yang diperntahkan Robnya kepada Nabi Ismail `alaihissalam.
Nabi Ibrahim `alaihissalam berkata kepada anaknya ``hai anakku aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu``
Perlu dipahami bahwa mimpi para Nabi itu adalah wahyu yang harus dipenuhi. Dalam hadits mawquf –hanya sampai pada perkataan sahabat Ibnu ‘Abbas- disebutkan,
رُؤْيَا الأَنْبِيَاءِ فِي المنَامِ وَحْيٌ
“Penglihatan para nabi dalam mimpi itu wahyu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 431)
Nabi Ibrahim `alaihissalam dan Nabi Ismail `alaihissalam adalah manusia pilihan yang Allah Subhanahuwata`ala telah menetapkan kesabaran dan keteguhan serta keyakinan yang kuat di dalam hatinya akan kebenaran segala sesuatu yang diperintahkan oleh Robnya meskipun perintah itu adalah perintah untuk menyembelih anaknya sendiri yaitu Nabi Ismail `alaihissalam.
Nabi Ismail `alaihissalam bersabar dan berharap akan Ridho allah subhanahuwataala atas apa yang diperintahkan Allah subhanahuwata`ala terhadap dirinya yaitu perintah untuk disembelih oleh ayah nya sendiri. semua adalah perintah Allah subhanauwata`ala maka dengan kesabaran, keyakinan yang kuat dan ketakutan akan siksa Allah subhanahuwata`ala maka perintah itu pun dilaksanakan dan berserah diri terhadap apa yang telah di tetapkan oleh allah subhanahuwataala terhadap dirinya.
Kecintaan Nabi Ibrahim `alaihissalam terhadap Allah Subhanahuwata`ala lebih diutamakanya daripada kecintaan Nabi Ibrahim `alaihissalam terhadap keluarganya, dan kecintaanya terhadap keuarganya pun tidak menghalanginya dari ketaatan pada Allah dengan melaksanakan apa yang diperintahkan allah terhadapanya justru keluarganya lah yang membantu mendorong Nabi Ibrahim `alaihissalam untuk tetap teguh terhadap apa yang diperntahkan Allah Subhanahuwaa`ala terhadap dirinya
Maka nabi ibrahim tatkala meletakkan Nabi Ismail di pelipisnya, siap untuk di sembelih, dan pisau pun telah menempel pada leher Nabi Ismail `alaihissalam, maka pada saat itu juga Allah subhanahuwata`ala menggantinya (Nabi Ismail `alaihissalam) dengan sebuah domba besar. dan yang di sembelih Nabi Ibrahim `alaihissalam bukanlah Nabi Ismail `alaihissallam melainkan yang di sembelih Nabi Ibrahim `alaihissalam adalah domba gemuk sebagai rizki yang baik yang dikaruniakan oleh Allah subhanahuwata`ala terhadap hamba hambanya yang jujur, ikhlas, dan yakin terhadap segala ketetapan Allah subhanahuwata`ala itu adalah baik bagi kehidupan dirinya apabila di taati dan dilaksanakan.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد
Jamaah sholat iedul adha yang drohmati allah subhanahuwataala.
Banyak pelajaran yang sangat berharga yang dapat di petik dari kisah Nabi ibrahim alaihissalam. kita dapat melihat betapa kuat keyakinannya terhadap segala sesuatu yang di tetapkan oleh Allah Subhanahuwata`ala itu dilaksanakan tanpa bertanya, dan tanpa mengeluh. karna keyakinan yang ter ukir di dalam hatinya adalah ``ini adalah perintah Allah subhanahuwata`ala maka ini pasti benar dan ini pasti baik``
Sayyid Qutub Rohimahulloh mengatakan bahwa sikap kita terhadap syariat islam adalah ``seperti seorang pemudadi depan komandanya``. Sikap yang wajib dijadikan sebaga pola pikir, dan sudut padang terhadap islam adalah dia siap dalam segala keadaan untuk taat dan patuh. jadi ketika islam memerintahkannya untuk sholat maka dia menunaika sholat, ketika islam memerintahkanya untuk zakat maka dia menunaikan zakat, ketika islam memerintahkanya untuk berbuat baik maka dia berbuat baik, dan ketika islam memerintahkanya untuk berjihad membela harta dan kehormatan kaum muslimin yang tertindas dengan harta dan jiwanya maka ia pun melaksanakan perintah itu tanpa banyak alasan, dan bertanya kenapa harus seperti ini dan kenapa harus seperti itu.
Allah subhaahuwata`ala berfirman :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya, “Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am : 162)
Telah jelas tertulis dalam Al Quran bahwa kehidupan kita sebagai seorang muslim adalah mencurahkan segalanya untuk islam, hidup untuk islam, dan mati di atas kemuliaan islam
kita bisa melihat tentara ketika komandan nya memerintahkan prajuritnya untuk push up. maka tanpa banyak bertanya prajuritnya pun akan push up sebagai bentuk pelaksanaan perintah komandanya, dan bahkan jika komandannya memerintahkaya untuk masuk kedalam sungai yang deras maka sudah pasti prajuritnya itu pun akan masuk ke dalam sungai yang deras itu. meskipun prajurit itu tidak bisa berenang. karna pola pikir yang ada di dalam prajurit itu adalah ``meski saya tidak bisa berenang kalau saya tenggelam pasti komandan akan menyelamatkan saya`` maka prajurit itu pun masuk ke dalam sungai yang deras itu tanpa berfikir panjang.
Pola pikir seperti ini harus terukir keras dan jelas lebih jelas daripada ketaatan manusia terhadap mahluk. karna ukiran ketaatan itu adalah untuk Allah subhanahuwata`ala, ketaatan yang tidak boleh ada tandingan untuk menyelisihinya, dan semua itu harus tertanam kuat di dalam hati seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai wujud akan keyakinan hati nya terhadap kebenaran islam.
Taat terhadap islam dan segala yang di ajarkanya di setiap kondisi. bagaimaapun keadaan kita apabila Allah subhanahuwata`ala memerintahkan, dan tidak menyepelekan sesuatu yang hukumnya sunnah. apalagi sesuatu yang wajib. maka harus dan wajib dilaksanakan oleh setiap muslim tanpa kompromi dan menari cari alasan untuk meninggalkanya. karena telah kita ketahui bersama bahwa ketika hukum itu menjadi wajib maka apabila dilaksanakan akan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapatkan dosa.
Pada penghujung khutbah ini khotib kembali mengingatkan akan firman subhanahuwata`ala :
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS Al-An’am : 79)
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَ انْصُرْهُمْ علَىَ عَدُوِّكَ وَ عَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظَّّالِمِيْنَ.
اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَ أَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا قَبْلَ اْلَمْوتِ تَوْيَةً وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَ بَعْدَ الْمَوْتِ رِضْوَانَكَ وَ الْجَنَّةَ. اللَّهُمَّ أَحْيِنَا مُؤْمِنِيْنَ طَائِعِيْنَ وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ تَائِبِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأّلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَ عَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ.
رَبَّنَا لاَتَجْعَلْنَا فِتْنَةً للذين كفروا واغفرلنا ربنا إنك أنت العزيز الحكيم
رَبَّنَا لاَتَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ونجنا برحمتك من القوم الكافرين
رَبّنا أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
والحمد لله رب العالمين