بسم الله الر حمن الر حيم
#Kajian_Tauhid
#kedelapan_bersambung
#Selasa, 4 Safar 1439 H
[7] Perkara ketujuh: Macam-macam Syirik
1. Syirik akbar, yaitu dosa besar yang Allah tidak akan mengampuninya dan tidak akan menerima amal shalih bersamanya. Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” [Qs. an-Nisa’:48]
Allah Subhanahu berfirman:
إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ، وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ.
“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukanAllah, maka sungguh Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnyaialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim.” [Qs. al-Maidah: 72]
Dan Allah Jalla jalaluhu berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sungguh, jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” [Qa. az-Zumar: 65]
Syirik akbar ada empat macam, yaitu:
1. Syirik doa
2. Syirik niat, keinginan dan tujuan
3. Syirik ketaatan
4. Syirik cinta.
2. Syirik ashghor, yaitu; segala sesuatu yang menjadi jalan menuju syirik akbar dan perantara untuk jatuh ke dalamnya, seperti riya’, bersumpah dengan selain Allah, mengucapkan “ma sya’allahu wa syi’ta (sesuai yang Allah kehendaki dan yang kamu kehendaki)”, mengucapkan “aku bersandar kepada Allah dan kepadamu”, dan hal-hal lainnya yang sedikit sekali orang yang selamat darinya.
Kafarat (penghapus)-nya adalah mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا أَعْلَمُهُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا أَعْلَمُ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak mempersekutukan dengan-Mu sesuatu yang aku ketahui. Dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya, dan dishohihkan oleh al-Haytsamiy dan Ibnu Hibban]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar