Kejujuran dalam Dien adalah kita menerima apapun yang datang dari Dien ini walaupun itu terasa pahit,susah dan menyakitkan.
Allah ta'ala berfirman:
فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكذبين.
" maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan yang dusta.” (Q.S. Al-‘Ankabut; 3)
Sudah sering kita melihat baik dari kalangan aktifis maupun awam kaum muslimin, ketika datang kebenaran dari Dien ini yang mungkin kita baru mendengarnya atau menyaksikan realitanya tiba-tiba hatinya menolak dan bahkan menampakkan permusuhan terhadapnya dikarenakan dia lebih mandahulukan hawa nafsu dan logikanya bahkan tidak segan-segan walapun terhadap dalil-dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah.
Allah ta'ala berfirman:
ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮا ﺇِﺫَا ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢْ ﻻَ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻻَّ اﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥ. ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺃَﺋِﻨَّﺎ ﻟَﺘَﺎﺭِﻛُﻮ ﺁﻟِﻬَﺘِﻨَﺎ ﻟِﺸَﺎﻋِﺮٍ ﻣَﺠْﻨُﻮﻥ.
" “Sesungguhnya mereka ketika dikatakan kepada mereka LAA ILAAHA ILLALLAH mereka berlaku sombong. Mereka berkata “Apakah kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena seorang penyair gila.” (Q.S. Ash-Shooffaat; 35-36)
orang yang jujur dalam Dien tentunya dia akan menundukkan hawa nafsunya di hadapan kebenaran dan di hadapan dalil-dalil dari al Qur'an dan as Sunnah dan tidak menyombongkan diri atasnya sebagai mana orang-orang kafir yang di sebutkan didalam ayat diatas.
Dan orang yang menyombongkan diri dan mengikuti hawa hafsunya dari pada kebenaran walaupun didalam masalah yang dibawah kekafiran atau disebut didalam masalah dosa-dosa besar (kabair) maka Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengajarkan kepada kita sikap apa yang harus di perbuat terhadap mereka sebagaimana disebutkan didalam hadits berikut:
Beliau bersabda:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ سُمَيَّةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهُ اعْتَلَّ بَعِيرٌ لِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ وَعِنْدَ زَيْنَبَ فَضْلُ ظَهْرٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِزَيْنَبَ أَعْطِيهَا بَعِيرًا فَقَالَتْ أَنَا أُعْطِي تِلْكَ الْيَهُودِيَّةَ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَهَا ذَا الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمَ وَبَعْضَ صَفَر.
" Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit Al Bunani dari Sumayyah dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Ketika unta Shafiyah binti Huyay sakit, Zainab masih mempunyai kendaraan yang bisa digunakan. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Zainab: "Berilah Shafiyah unta." Zainab menjawab, "Aku harus memberi Yahudi itu!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun marah, kemudian beliau mendiamkannya selama bulan Dzul hijjah, Muharram dan sebagian bulan Shafar."( Abu Dawud. 3986)
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا عَطَاءٌ الْخُرَاسَانِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ قَدِمْتُ عَلَى أَهْلِي وَقَدْ تَشَقَّقَتْ يَدَايَ فَخَلَّقُونِي بِزَعْفَرَانٍ فَغَدَوْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَقَالَ اذْهَبْ فَاغْسِلْ هَذَا عَنْك.
" Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad berkata, telah mengabarkan kepada kami Atha Al Akhurasani dari Yahya bin Ya'mar dari Ammar bin Yasir ia berkata, "Aku mendatangi isteriku saat tanganku lecet, kemudian ia membalur tanganku dengan za'faran. Pagi harinya aku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, saat aku mengucapkan salam beliau tidak mau menjawabnya. Beliau bersabda: "Pergi dan bersihkanlah ini (za'faran) darimu."( Musnad Ahmad.18133).
Beginilah sikap beliau terhadap mereka yang dibawa kekafiran, apalagi terhadap para pelaku kakafiran tentunya lebih dari itu.
Oleh karena itu jujurlah dalam Dien ini dan tundukkan hawa nafsumu dihadapan dalil-dalil dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang kafir yang menolak tunduk atas dalil-dalil al Qur'an dan as Sunnah. Wallahu ta'ala a'lam
[Abu Muhammad Al Arkhabiliy]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar