Oleh : Abu Muhammad Al Arkhabiliy
Segala puji bagi Allah ta'ala yang telah mengaruniakan kepada kita ni'mat Iman dan Islam yang denganNya Allah ta'ala ingin memuliakan kita semua, Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Imamul Mujahidin Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang senantiasa mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat...Amma ba'du.
Seiring berjalannya waktu dimana kelompok kafir memulai mengumpulkan kekuatannya untuk menghancurkan Dienul Islam maka dengannya pula Allah ta'ala memunculkan para tentaranya untuk menghadang pengrusakan yang dilakukan oleh mereka (orang-orang kafir), yang dengannya Allah ta'ala juga memilih diantara tentaranya ada yang sebagai syuhada, yang tertawan, di kejar-kejar, terluka, dan di antaranya juga ada yang diberikan kemenangan dengan kemuliaan di atas Dienul Islam.
Allah ta'ala juga memberikan sebuah kemuliaan bagi para tentaranya dengan pahala yang begitu besar sehingga Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: Al-Miqdam bin Ma’di Yakrib menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan ia itu:
1.diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya menetes keluar.
2.melihat tempatnya didalam surga.
3. dilindungi dari azab kubur
dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar
4.dipasangkan mahkota dari yakut.
5. dinikahkan dengan 72 bidadari.
6.diperkenankan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya"
(Hadis Riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dan dalam hadits lain pahalanya tidak ada yang sanggup menyamainya.
"Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan berkata, ‘Ya Rasulallah, tunjukkan kepadaku satu amal yang menyamai jihad?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak mendapatkannya.’ Beliau bersabda lagi, ‘Apakah kamu sanggup, apabila seorang mujahid keluar lalu kamu masuk ke dalam masjidmu kemudian kamu shalat tanpa berhenti dan berpuasa tanpa berbuka?! Ia menjawab, ‘Siapa yang sanggup melakukan itu wahai Rasulallah?’" (HR. al-Bukhari)
"Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Wahai Rasulullah, Amalan apakah yang (pahalanya) sebanding dengan Jihad fi Sabilillah?” beliau menjawab, "Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya."
Mereka (para sahabat) mengulangi pertanyaan tersebut dua atau tiga kali, dan jawaban beliau atas setiap pertanyaan itu sama, "Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya." Kemudian setelah yang ketiga beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
"Perumpamaan seorang mujahid Fi Sabilillah adalah seperti orang yang berpuasa yang mendirikan shalat lagi lama membaca ayat-ayat Allah. Dan dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga seorang mujahid fi sabilillah Ta’ala pulang." (Muttafaq 'Alaih)
Subhanallah begitu besarnya apa yang Allah ta'ala persiapkan untuk para tentaranya baik yang berada di fron terdepan ataupun di belakang ketika mereka itu adalah tertara Allah ta'ala maka pemberian pahalanya adalah sama,oleh karena itu apakah kita tahu tentara Allah ta'ala yang berada di fron bagian belakang yang memiliki pahala yang sama dengan yang berada di fron terdepan.....?
Dari Shahabat Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menyiapkan keberangkatan seorang tentara Islam dalam jihad di jalan Allah, berarti ia ikut berjihad. Dan barangsiapa membantu kebutuhan keluarga yang ditinggalkannya, berarti ia ikut berjihad.”
[HR. Bukhari (no. 2843), Muslim (no. 1895/135, 136), Abu Dawud (no. 2509), At-Tirmidzi (no. 1628), dan An-Nasa’i (VI/46)].
Dari Shahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Barangsiapa menyiapkan keberangkatan seorang tentara Islam dalam jihad di jalan Allah, berarti ia ikut berjihad. Dan barangsiapa Menjamin kebutuhan kelu
arga yang ditinggalkannya dengan baik, berarti ia ikut berjihad.”
(HR. Muslim (no. 1895) dan lainnya)
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Maksudnya, ia akan mendapat pahala dengan sebab jihadnya orang tadi, dan pahala ini akan didapatkan pada setiap jihad, baik sedikit maupun banyak. Pahala tersebut juga diberikan bagi setiap orang yang menjamin kebutuhan keluarga seorang Mujahid dengan baik; seperti menafkahi mereka atau membantu urusan mereka. Dan besar kecilnya pahala tersebut tergantung dari sedikit atau banyaknya bantuan. Di dalam hadits ini terkandung anjuran untuk membalas kebaikan orang yang berjasa bagi Islam dan kaum Muslimin, atau (membalas kebaikan) orang yang mengemban suatu tugas penting demi mereka.” (Syarah Shahih Muslim (XIII/40)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Sabda Nabi" berarti ia ikut berperang”, menurut Ibnu Hibban maknanya bahwa orang itu mendapat pahala yang sama, meskipun tidak terjun langsung ke medan jihad.
Kemudian ia (Ibnu Hibban) meriwayatkan hadits ini, dari Busr bin Sa’id, dengan lafazh:
“Ditetapkan baginya pahala seperti pahala Mujahid itu tadi, tanpa mengurangi pahala Mujahid itu sedikit pun.”
(Shahih. HR. Ibnu Hibban. 4614 – At-Ta’liiqaatul Hisaan)
Ibnu Majah meriwayatkan hadits semakna, dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa mempersiapkan segala keperluan seorang Mujahid hingga ia bisa menutup seluruh kebutuhannya, maka baginya pahala seperti pahala mujahid tersebut sampai ia gugur atau ia pulang (dengan selamat).”
(Shahih. HR. Ibnu Majah (no. 2758)
Dalam Hadits Muslim.
و حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى الْمَهْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ إِلَى بَنِي لَحْيَانَ لِيَخْرُجْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ رَجُلٌ ثُمَّ قَالَ لِلْقَاعِدِ أَيُّكُمْ خَلَفَ الْخَارِجَ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ بِخَيْرٍ كَانَ لَهُ مِثْلُ نِصْفِ أَجْرِ الْخَارِج
(Dan telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru bin Harits dari Yazid bin Abu Habib dari Yazid bin Abu Sa'id bekas budak Al Mahri dari ayahnya dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim utusan ke Bani Lahyan, agar setiap dua orang laki-laki (dari satu rumah) keluar satu orang laki-laki (untuk berperang), kemudian beliau bersabda kepada orang yang tidak ikut berperang: "Kalian yang tidak ikut berperang, hendaknya mengurusi keluarga dan harta orang yang ikut berperang dengan baik, maka ia akan mendapatkan pahala setengah dari orang yang ikut berperang."(Hr. Muslim.3514)
Berhatikanlah berapa besarnya pahala bagi orang-orang yang tidak ikut berperang akan tetapi dia membantu memenuhi keluarga dari orang-orang yang berperang fii Sabilillah (mujahidin) lalu apa yang membuat kalian rela menahan harta dari memenuhi kebutuhan mereka.......?
Lalu apa yang membuat kalian rela berdiam diri dengan harta kalian dari membantu mereka.....?
Lalu dengan alasan apa lagi yang membuat kalian tidak rela membantu,menolong dan memenuhi kebutuhan orang yang berperang fii Sabilillah dan keluarganya yang di tinggalkan.........?
Sungguh kelaparan dan kekurangan dan penderitaan yang kalian rasakan itu tidak lebih dari kelaparan,kekurangan dan penderitaan mereka,dan kesehatan,kekuatan dan penderitaan kalian itu manfaatnya hanyalah untuk kalian sendiri tapi kesehatan,kekuatan dan penderitaan para tentara Allah ta'ala (Mujahidin) adalah untuk Dien dan umat islam seluruhnya.
Bahkan para ulama ketika ditanya tentang infak, "Mana yang harus di utamakan,apakah membantu keluarga yang kelaparan atau membantu para Mujahidin....?
Mereka berkata: "sesungguhnya membantu dan berinfak untuk mujahidin itu lebih di utamakan karena manfaatnya untuk Dien dan kaum muslimin sedangkan membantu keluarga yang kelaparan itu manfaatnya hanyala
h untuk mereka sendiri".
Oleh karena itu infakkanlah hartamu kepada tempat dan tujuan yang tepat agar pahalamu juga semakin besar disisi Allah ta'ala......Wallahu ta'ala a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar