بسم الله الرحمن الرحيم
Bahaya 'Ujub & Cara mengobatinya
'Ujub atau merasa bangga diri adalah penyakit hati yang menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan. Allah telah mencela sifat 'ujub dalam firman-Nya:
لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما رحبت ثم وليتم مدبرين
“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (wahai kaum Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, dimana kalian merasa 'ujub dengan banyaknya jumlah kalian, namun ternyata jumlah yang banyak itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi kalian, dan bumi yang luas pun menjadi terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang tercerai-berai.” (At-Taubah: 25)
Ayat ini sebagai teguran Allah tatkala ada sebagian Shohabat yang merasa bangga dengan banyaknya jumlah pasukan kaum Mukminin dari kaum musyrikin dan merasa yakin menang tidak akan terkalahkan! Maka di sana Allah tunjukkan bahwa sifat 'ujub yang ada di antara mereka itulah yang menjadi sebab utama kekalahan.
Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وأما المهلكات فشح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب المرء بنفسه
"Dan adapun (tiga perkara) yang membinasakan adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan bangganya seseorang dengan dirinya."
(HR. Al-Baihaqi dalam "Syu'abul Iman" 745 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam "Shohihul Jami'" 3045)
Bagaimana 'ujub bisa menjerumuskan pelakunya kepada kesyirikan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Riya’ dikatakan syirik dari sisi orang yang beramal sholih menyertakan pihak lain sebagai sekutu Allah dalam mengharap pujian. Sedangkan ‘ujub tergolong syirik dari sisi menyertakan dirinya sendiri sebagai sekutu Allah dalam keberhasilannya saat beramal.” (Majmu’ Fatawa 10/277)
Maka 'ujub dapat merusak keikhlasan sebagaimana riya' dan Allah tidak akan menerima amalannya itu meski dikagumi oleh banyak orang. Sedangkan yang menjadi sasaran riya’ dan ‘ujub ini adalah para tholabatul ‘ilmi, para ahlul ilmi dan ahli ibadah karena pada diri mereka ada banyak amalan sholih.
Bagaimana cara mengobatinya?
Caranya sebagaimana disampaikan oleh para Ulama adalah dengan mempelajari tauhid dan mengamalkannya, menyadari bahwa semua amal sholih dapat dikerjakan berkat pertolongan Allah dan kemudahan-Nya, serta berlaku tawadhu' (rendah hati) terhadap manusia. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وما تواضع أحدٌ لله إلا رفعه
“Tidaklah seseorang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Malik 1885, Ahmad 8782, Muslim 2588, At-Tirmidzi 2029, Ad-Darimi 1676)
Ibnul Qoyyim berkata, "Jika Allah membukakan bagimu pintu qiyamul lail (sholat malam), maka janganlah sekali-kali engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan yang merendahkan. Jika Allah membukakan bagimu pintu puasa, maka janganlah sekali-kali engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan yang merendahkan. Jika Allah membukakan bagimu pintu jihad, maka janganlah sekali-kali engkau melihat orang-orang yang tidak berangkat jihad dengan pandangan yang merendahkan. Sebab boleh jadi orang yang tidur, tidak puasa, tidak berangkat jihad lebih dekat kedudukannya di sisi Allah dibandingkan dirimu."
Beliau juga berkata, "Dan sungguh bila engkau memenuhi malammu dengan tidur dan bangun di pagi hari dalam kondisi menyesal karena luputnya amalan, itu lebih baik bagimu ketimbang engkau begadang semalam suntuk untuk sholat namun bangun di pagi hari dengan perasaan 'ujub! Karena sesungguhnya amalan yang dilakukan dengan 'ujub itu tidak akan diterima oleh Allah." (Madarijus Salikin 1/177)
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalan yang diridhoi-Nya
Sumber : Channel Telegram
QURBAN UNTUK MUJAHIDIN DI DALAM PENJARA
🏧 Donasi pembelian Hewan Qurban bisa ditransfer melalui rekening :
📠.BRI 3094-01-022658-53-8
📠.BCA 1530288907
A/n : Adib Budi wicaksono
📲. konfirmasi :
■ 0856-0347-9256 (Whatsapp) / 0881-2832-054
■ Telegram @lazizmu
■ BBM : DB1A3E68
■ FB : Laziz Muwahidin
Penanggung jawab: Abdurrahman
Humas : Faisal Syauqot
📑. Penasehat:
1.Ustadz Abu Yahya As Sajiiy Fakallahu Asroh
2.Ustadz Afif Abdul Majid Fakkallahu Asroh
3.Ibnu Qudamah Al ArKhabiliy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar